Review Film : Aruna dan Lidahnya (2018)



"bukannya saya ya yang harusnya nanya, aadaa aapa ya sebenernya?"
 Salah satu line dalam film Aruna dan Lidahnya yang membuat saya tertawa cukup lama saat menonton film ini. Untuk ukuran film Indonesia di minggu ke-3 nya Aruna masih dapat bertahan di bioskop bersaing dengan film Hollywood seperti Venom (Tom Hardy) dan First Man (Ryan Reynolds) Tapi, kita juga tidak bisa menampik pesona Nicholas Saputra yang tampil cukup berbeda di film ini. Tentu saja pesona Cinta dan Rangga masih melekat pada diri Dian Sastro dan Nicholas Saputra sehingga menurut saya mereka berdua yang meningkatkan sisi komersial di film ini.

Terdapat beberapa product placement di film ini dengan eksekusi yang baik, maksudnya enggak bikin saya bete karena keliatan aneh atau "duh iklan banget sih"
Alasan utama saya menonton film ini selain karena pemeran utamanya juga karena hell-ya ini film tentang makanan lho dan jarang ada film Indonesia tentang makanan. Seingat saya sejauh ini Indonesia pernah memiliki film tentang makanan yaitu Tabula Rasa (2014) dan Red Cobex(2010)
Maka ketika ada film tentang makanan dan produksinya terlihat tidak main-main tentu saja saya jadi penasaran sama filmnya.

Film ini secara garis besar ceritanya 'onde-onde' banget. Spoiler dikit nih ya. Jadi Aruna ini kerja di NGO gitu kayaknya terus lagi dapet project harus investigasi tentang kasus flu burung di Surabaya, Madura, dan Pontianak. Di sela-sela kesibukan Aruna menginvestigasi dia sempetin tuh buat kulineran sama dua sahabatnya Bono dan Nad. Eh, tau-tau mantan rekan kerjanya (Faris) di NGO yang sekarang pindah kantor muncul dan ikut dalam project investigasi ini.
Faris sama Aruna tuh kayak naksir-naksir tapi sebel gitu dari dulu tapi gengsi mau ngaku. Sama kayak Bono (Nicholas Saputra) yang naksir Nad(Hannah Al-Rasyid) tapi malu-malu kucing.

Pada perjalanan kuliner sekaligus investigasi flu burung ini justru mereka jadi kebuka satu sama lain.
Ceritanya biasa banget, konfliknya juga receh. Tapi alasan kenapa kalian harus nonton film ini karena justru terkadang hidup emang gitu kan. Banyak hal receh yang jadi besar dalam hidup kita karena kita dramatis. Hidup emang drama kali! semua orang melakukan peran dalam dramanya masing-masing. Kalo kalian gak drama dalam satu masalah bukan berarti kalian gak bakalan drama buat masalah yang lain.

Skenario yang sederhana namun apik dan eksekusi yang memuaskan dari sutradara membuat saya bisa menikmati film ini seutuhnya walaupun Aruna, Faris,  suka gak jelas. Scene makan-makan yang bikin nelen liur berkali-kali karena ngiler! Sumpah deh itu bakmi kepiting menggoda banget.
Secara keseluruhan film ini menghibur sekali. Aktingnya mereka gak perlu diragukan lagi. Meskipun onde-onde banget endingnya, justru itu yang bikin saya senyum-senyum dan kepengin (belajar) masak setelah nonton film ini.

Kelas Barista di Dongeng Kopi Jogja


Bagi penggemar kopi apalagi di Jogja, pastinya nama Dongeng Kopi tidak asing lagi. Kedai kopi yang berdiri sejak tahun 2012 berawal dari perbincangan hangat teman-teman penyuka kopi di Twitter dan kemudian menjadi sebuah kedai di Jogja.


Secara jam terbang tentu saja sudah tidak diragukan lagi Dongeng Kopi Jogja telah bergerak sebagai Speciality Coffee sejak lama bahkan sebelum Kopi Single Origin saat ini menjadi begitu digemari. 
Jika kita flashback kembali pada trend Coffee Shop beberapa tahun yang lalu, adalah Latte dan Capucinno yang menjadi idola para penikmat kopi. Saat itu pun saya belum mengetahui apa itu V60, apalagi Aeropress, giling halus, giling kasar, dan pengaruh temperature air pada rasa kopi. 

Hal ini berawal ketika saya benar-benar menjadi butuh asupan kafein setiap pagi. Terus terang saja saya adalah tipikal orang yang sulit sekali bangun di pagi hari. Kopi menjadi penting untuk menjaga pagi saya tetap terjaga melewati kelas demi kelas saat kuliah. Begitu terus sampai saya bekerja di sebuah radio dan membawakan acara pagi. Dahulu saya hanya mengenal kopi campur (kopi, gula, susu) dalam bungkus plastik, tidak peduli apakah itu kopi asli atau bukan yang paling penting dapat membuat saya tetap terjaga.

Kopi campur dengan kadar gula yang bila dikonsumsi setiap hari membuat tidak sehat tersebut yang membuat saya mulai meminum kopi tanpa gula. Pastinya beberapa sudah dapat membayangkan bagaimana rasa kopi tanpa gula. Tentu saja ada pahitnya, namun beberapa kopi yang saya minum terasa manis. Penasaran dengan kopi dan seluk beluknya saya mencari tahu di YouTube, dan artikel lainnya tentang cara menyeduh kopi yang benar. Akan tetapi hanya belajar melalui internet tentu saja tidak akan sama dengan pertemuan langsung. Saya merasa kurang puas dengan apa yang pelajari di Internet. 

Suatu hari Christine sedang mencari pekerjaan paruh waktu. Saat itu karena handphonenya yang rusak ia meminta tolong kepada saya untuk mencarikan info lowongan kerja di Instagram. Saat itu iklan lowongan kerja paruh waktu terpasang di sebuah akun info Jogja dan Dongeng Kopi tertera sebagai pemasang iklannya. Penasaran saya buka akun instagram Dongeng Kopi. Selanjutnya saya semakin kepo dan scrolling feed instagram Dongeng Kopi yang kemudian membawa saya pada informasi Kelas Seduh Manual.

Kelas Seduh Manual Dongeng Kopi Jogja

Kelas ini bertujuan untuk para penggemar kopi yang memang memiliki keinginan mendalam untuk mengenal kopi. Saya mencari informasi melalui website mereka https://dongengkopi.id tertarik dengan program kelas yang ditawarkan saya pun mendaftar.
Kelas Seduh Manual Dongeng Kopi berlangsung selama 3 hari dengan durasi 5 jam/hari. Selama 3 hari kita akan belajar tentang sejarah kopi, persebaran kopi, jenis dan varietas kopi, dan tentunya bagaimana cara menyeduh kopi agar mendapatkan rasa yang kita inginkan.

Kelas seduh manual di Dongeng Kopi dimulai pukul 10 pagi. Pada hari pertama pelajaran akan difokuskan pada pengenalan tentang kopi. dari hulu sampai ke hilir. Sejarah penemuan kopi dijelaskan secara rinci dengan materi yang mumpuni. Tak lupa juga kami para murid diberikan contoh bentuk-bentuk kopi dari jenis dan varietas kopi yang berbeda-beda. Contoh di sini bukan hanya sekedar gambar tapi bentuk kopi yang sesungguhnya. 

Kelas seduh manual Dongeng Kopi Jogja memberi saya wawasan mengenai kopi dan pengalaman yang menyenangkan selama belajar tentang kopi. 
Sebuah stigma yang selama ini melekat pada kopi bahwa minuman tersebut haruslah pekat dan pahit. Kalau tidak pekat dan pahit berarti bukan kopi terpecahkan sudah. 
Kopi memiliki banyak rasa di dalamnya yang selama ini karena stigma tersebut tidak kita jelajah dengan baik. Sehingga pada third wave coffee ini orang-orang lebih dapat menghargai kopi dan mencari rasa yang bermacam-macam pada kopi tidak hanya rasa pahit saja. Tentunya hal tersebut akan membantu para petani kopi untuk menaikkan kualitas tanaman mereka sehingga menghasilkan kopi bernilai jual tinggi yang bukan hanya pekat dan pahit.

#stopkopisobek

Tagline tersebut kian marak pada third wave coffee. Bukan berarti orang-orang yang kerap kali disebut coffee snob ingin gaya-gayaan. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa rasa kopi yang ada pada kopi sesungguhnya begitu memesona indera pengecap kita. Namun apapun itu disobek atau tidak semoga kopi yang kita minum hari ini tidak membuat petani kopi menangis.

Kelas seduh manual Dongeng Kopi Jogja sangat cocok untuk teman-teman yang ingin belajar tentang kopi dan mendalami kopi lebih lanjut karena dalam kelas ini kita akan diajarkan banyak hal tentang kopi dari tanaman kopi sampai proses seduh yang baik agar menghasilkan cita rasa yang memukau lidah kita.

Adalah Renggo Darsono dan Ayu Lestari dua nama besar dibalik kesuksesan Dongeng Kopi Jogja. Sepasang suami isteri ini adalah pengajar di kelas seduh manual sekaligus pemilik dari Dongeng Kopi Jogja. Selain kelas seduh manual, Dongeng Kopi Jogja juga roastery. Kopi-kopi pilihan yang disajikan telah melalui tahap roasting yang baik sehingga menghasilkan rasa yang eksotis. 

Tertarik mengikuti kelas seduh manual di Dongeng Kopi? teman-teman dapat berkunjung ke website mereka https://dongengkopi.id

Dongeng Kopi Jogja
Layanan Luring : Lokus x Dongeng Kopi

Tentang Patah Hati dan Kreativitas

Photo by Danielle MacInnes on Unsplash

Sejujurnya saya tidak pernah tahu apa yang saya lakukan. Saya hanya meminum kopi dan berpura-pura tahu apa yang sedang saya lakukan. Tunggu dulu, apakah kamu mabuk? Sebenarnya ini hanyalah perumpamaan yang saya pakai untuk menggambarkan bahwa terkadang saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan tetap tetap saja saya berjalan dan melakukannya. Entah karena keberanian atau apa. Tetapi hidup tetap harus berjalan bukan?

Patah hati. Kata orang begitu menyiksa. Memang benar adanya siksa patah hati terjadi saat kita semakin berusaha melupakan namun tidak kunjung hilang dari ingatan malah justru semakin didekatkan. 

Proses move on adalah yang paling melelahkan dari semua fase yang harus kita lalui. Pada awalnya semua terasa berat dan hampir membuat kita menyerah. Lalu kemudian harapan baru datang dari celah-celah yang awalnya tidak terlihat sama sekali. Menyalakan kembali kreativitas yang kita miliki. Benarkah saat patah hati orang jadi lebih kreatif? Jawabannya ya dan tidak. Untuk beberapa orang patah hati menimbulkan pelarian, dan ke mana diri ini harus melampiaskan kemarahan, kesedihan, dan air mata? Bisa saja pada puisi yang sengaja kita gubah ketika galau atau lirik lagu yang begitu dalam. Membuat sebuah karya yang hidup terkadang diperlukan cerita nyata dibaliknya agar pesannya sampai pada pembaca, pendengar, atau pun penonton.  

Tidak semua orang yang patah hati mendadak menjadi kreatif. Kita bisa saja terpuruk menyalahkan keadaan karena telah ditinggalkan oleh kenangan-kenangan baik. Bukankah hidup kita adalah serangkaian kenangan? Maka anggaplah saat ini drama dalam hidup kita sedang berusaha menampilkan adegan yang sedih agar kenangannya dapat terekam dalam ingatan. Kenangan tersebut dapat kita simpan atau kita buang ketika tidak lagi merasa penting seperti di film kartun Inside Out. Serangkaian kenangan yang mempengaruhi sifat kita dan bagaimana kita bertindak dalam suatu keadaan. Maka betapa pentingnya ingatan-ingatan ini bukan?

Dalam proses pelarian yang panjang ini kadang kita merasa ingin segera berakhir. Sama seperti mengerjakan skripsi di tahun terakhir. Saya tanpa henti merasa sedih karena teman-teman lain sudah bekerja dan bahkan ada yang sudah menikah sedangkan saya masih harus ke kampus (curcol cerita lama) Tapi benar memang dalam kondisi patah hati perasaan sulit dikendalikan dan didominasi oleh kenangan yang sedih. 

Hari esok seperti terlihat menjanjikan sebuah kepastian ketika kita bicara tentang masa depan. Tapi apakah pasti masa depan menjamin kebahagiaan? 
Saya tidak pernah tahu bahwa patah hati dapat menumbuhkan kreativitas. Hanya saja ketika kita merasa lapar, terdesak, sedih atau apapun yang tidak enak kita cenderung melampiaskan perasaan lebih jujur dibandingkan saat kita merasa nyaman, bahagia, kenyang. Terkadang mereka membuat kita menjadi manipulatif.

Kreativitas dengan kejujuran tentulah penting meskipun untuk bisa merasa jujur dalam sebuah proses pembuatan sebuah karya tidak jarang kita harus merasa sakit terlebih dahulu.

Ternyata passion tidak begitu penting

Photo by Nathan Dumlao on Unsplash

Dalam sebuah wawancara saya pernah bilang kalau siaran adalah pekerjaan yang sangat saya sukai. Benar adanya bahwa saat ini saya tidak lagi menjadi penyiar radio namun, kerinduan akan suasana studio dan berada di depan microphone lagi selalu menggebu di diri saya. Apakah memang itu passion? Entahlah, saya belum punya jawabannya.

Seperti yang pernah saya tuliskan di blog ini juga mengenai siaran. Saya sudah lama menginginkannya. Tapi ternyata hal yang saya inginkan sejak lama tersebut harus saya lepaskan. Alasannya? Ada beberapa alasan mengapa saya tidak siaran lagi. Hal tersebut tidak akan saya ceritakan. 

Mungkin passion adalah sebuah kemewahan yang begitu mahal harganya sehingga untuk menemukannya diperlukan waktu dan usaha. Itu bukanlah sesuatu yang kita dapatkan sejak kita lahir. Kadang-kadang dalam mencari passion butuh keringat dan air mata. Belum lagi drama-drama yang tidak pernah habis namun hanya bisa kita sembunyikan agar tidak dinyinyirin orang. 

Menjadi orang yang mudah bosan sulit juga. Apalagi banyak maunya, kemudian maunya cepat tercapai. Padahal tidak ada yang instan di dunia ini bahkan untuk memasak mie instan kita butuh satu hal penting yaitu niat. Tanpa niat keberadaan air, panci, kompor gas, dan mie instan tidak ada artinya. Kalau ada niat tanpa itu semua kita akan berusaha bagaimana bisa memasak mie instan. Dengan menggunakan magic jar misalnya.
Niat adalah hal yang menjanjikan. Katanya semua tergantung niatnya. Kalau niatnya berbuat baik maka hasilnya pasti baik. Apakah menanam padi hanya akan tumbuh padi? Yakin tidak akan tumbuh tanaman pengganggu? 
Niat yang kuat dapat memengaruhi keinginan kita  agar tidak hanya menjadi isapan jempol semata. Tapi apakah niat saja sudah cukup?

Ternyata passion tidak begitu penting. Ada yang lebih penting yaitu kepastian. Kalian tentu tahu masalah dalam ekonomi adanya ketidakpastian. 
Ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian yang pantas kita dapatkan. Ketidakpastian ini menggiring kita pada investasi, pada doa-doa yang dipanjatkan setiap hari karena jujur saja saya suka berdoa karena merasa takut akan ketidakpastian dalam hidup.

Drama passion ini tidak berakhir dengan cepat rupanya. Beruntunglah kalian yang mengetahui passion kalian dan mendapat kemudahan dalam melakukannya. Seperti dukungan dari orang tua misalnya. Jangan berkecil hati jika kalian tidak mendapat dukungan orang tua setidaknya kalian tahu apa yang kalian benar-benar sukai dan inginkan. Yang paling sial adalah yang tidak tahu apa passionnya sudah gitu tidak dapat restu orang tuanya. Hanya bisa duduk di balik meja dengan mata menerawang dan terus berpikir "apa yang sedang saya lakukan di sini?"

Sebenarnya tidak ada yang salah kalau orang tua yang tidak suka dengan passion anaknya. Mereka cuma mencegah kita dari ketidakpastian. Makanya penginnya kita kerja yang pasti-pasti aja, kuliah yang pasti-pasti aja karena hidup sudah penuh dengan ketidakpastian. 
Tapi apakah hidup dengan ketakutan seperti itu adalah yang kita inginkan? Kita hidup hanya sekali dan sulit untuk menjadi berani padahal keberanian yang membuat kita bertahan di atas kapal menuju daratan.

Sesekali mengambil risiko mungkin tidak apa-apa. Jika kita bisa berbuat adil dan membahagiakan semua orang tentu saja kita bukan lagi manusia. Mengetahui diri sendiri dan membahagiakan diri sendiri saja sudah sulit. Pernah tidak kita berpikir sudah seberapa bahagia kita? Apakah benar-benar bahagia atau terpaksa bahagia? 
Definisi bahagia itu sendiri sulit digambarkan. Apakah bersyukur dapat dikatakan sudah bahagia? Tapi keinginan manusia tidak terbatas dan apakah untuk itu manusia dianggap tidak bersykur?

Mungkin passion saya memang siaran mungkin juga tidak. Semenjak menyukai kopi saya ingin belajar lebih banyak tentang kopi. Tapi apakah kopi adalah passion saya? Terlalu dini untuk menyimpulkan. Saya hanya manusia yang memiliki banyak keinginan dan mudah bosan. Dua hal tersebut yang menjadi hambatan saya untuk menemukan passion. 

Kalian sudah menemukan passion? Sudah melakukan atau sedang dalam pencarian? atau sedang berusaha meyakinkan keluarga bahwa pilihan kalian benar? Manusia wajar berbuat salah. Tapi keluarga adalah keluarga kan?

Tentang passion mungkin tidak perlu dibesar-besarkan bahwa kita harus mengejarnya. Kenyamanan kadang membuat kita merasa harus menemukan passion. Sementara yang lain melakukan sesuatu tanpa keinginan yang kuat bertahun-tahun sampai akhirnya menjadi passion. 

Menuju Daratan

Photo by Math on Unsplash


Kalian sudah pernah berlayar? atau melakukan perjalanan dengan menggunakan angkutan kapal laut? kalau yang  sudah pernah bagaimana rasanya apakah menyenangkan? menakutkan? atau bagaimana?
Kita semua sedang berada di atas kapal menuju daratan. Jika kita tidak punya tujuan maka akan terombang ambing di tengah lautan. Jika sudah punya tujuan namun tidak terlalu yakin maka akan tersesat dalam perjalanan. 

Berlayar merefleksikan kehidupan. Daratan yang kita tuju tidaklah selalu sama. Perjalanan panjang di atas lautan yang membuat mabuk, dan ingin menyerah tentu dialami hampir semua awak kapal pada pertama kali perjalanan. Ada yang lambat laun terbiasa, ada juga yang masih saja mabuk laut dan mengeluh habis-habisan karena memuntahkan isi perutnya padahal ia baru saja makan. Lalu hal tersebut terjadi berkali-kali. Ia tidak pernah belajar untuk tidak mabuk, atau mungkin memang tidak bisa sembuh.

Dalam keadaan terombang-ambing di atas kapal ada yang yang ingin menyerah tidak kuat dengan tekanannya. Ingin loncat dari atas kapal sama seperti adegan Rose di film Titanic.
Setiap kapal membutuhkan nahkoda, awak, dan penumpang. Peran apa yang akan kita mainkan menjadi penting karena menentukan apa yang harus kita lakukan untuk membantu kapal sampai di daratan. Terkadang nahkoda dan awak kapal tidak sejalan. Kita bisa melakukan perjalanan sendirian dengan perahu atau kapal kita sendiri sehingga kita bisa menjadi nahkodanya. Namun, tidak semua ditakdirkan menjadi nahkoda. Ada yang memiliki ketakutan ketika harus sendirian, ada yang dapat bersinar di kegelapan walaupun seorang diri. 

Beberapa awak kapal berharap tidak perlu berlabuh ke daratan. Mereka menikmati apa yang sedang terjadi di lautan. Cinta dan persahabatan yang terjalin di atas kapal. Mungkin juga hal yang mengasyikkan tersebut dapat berakhir sesampainya mereka tiba di daratan. atau mungkin juga mereka hanya bingung pada apa yang harus mereka lakukan sesampainya di daratan. Seperti "oke kita sudah sampai daratan lalu sekarang apa?"

Pernahkah kalian memikirkan apa yang akan kalian lakukan ketika sudah sampai di daratan? atau mungkin kalian berpikir "yang penting sampai saja dulu ke daratan"
Banyak yang bersyukur karena berada di atas kapal. Sebagian orang harus mendayung sekoci atau perahu kecil menuju daratan. Terkadang perahu mereka mengalami kebocoran. Ada yang belum sampai daratan sudah tenggelam. Yang berada di sekoci tetap bersyukur karena mereka tidak harus berenang. Membayangkan dinginnya air laut saja sudah membuat ngilu. Beberapa orang memang memiliki ketahanan fisik yang tinggi untuk berenang menuju daratan. Belum lagi ketabahan hati mereka menghadapi hewan laut yang tidak bersahabat. Kadang mereka hanya lewat saja, tapi kadang mereka lapar dan menerkam apa yang bisa dimakan.

Berada di atas kapal mewah juga tidak menjamin bahwa perjalanan menuju daratan akan lancar. Tapi yang terpenting selalu memiliki tujuan. Itu yang membuat nahkoda tetap terjaga dan layar tetap berkembang. Kadang kesepian menyergap apalagi kalau kita adalah nahkoda dalam sekoci kita sendiri. Sekoci kecil memang tidak bisa dibanggakan dan malah membuat depresi. Terkadang mereka terlalu nekat dan memaksakan diri. Tapi apalagi yang harus dipertaruhkan selain memaksakan diri.

Memaksakan diri untuk tetap terbangun di pagi hari dan mendayung sekoci menuju daratan meskipun merasa kesepian. Berada di kapal mewah tanpa berbuat apa-apa hanya mengandalkan insting sang nahkoda untuk membawa ia ke daratan bukan berartti di dalam keramaian ia tidak kesepian. Mungkin saja kilauan kemewahan itu terlihat memenuhi kapal tapi tidak hatinya. Kesepian adalah perasaan misterius yang bisa datang pada siapa saja dengan kondisi apa saja. Kita hanya berusaha mengabaikannya tapi ia terus mengganggu.

Semoga gunung es di depan kita tidak segera mencair seperti di film Titanic. Selamat berlayar dan mengarungi lautan. Kawan

Koka Cheese Tea dari Loffle Pop Up Dessert, Bikin Good Mood Seharian!




Koka Cheese Tea by Loffle.id

Mood swing atau perubahan mood mendadak gara-gara sesuatu hal yang tiba-tiba terjadi emang bikin kita sebel. Sudah mengawali hari dengan semangat, pakai baju cerah ceria yang fashionable dan kekinian, rencana sudah ditata sedemikian rupa kemudian ada hal yang bikin bete seperti siang yang panas dan bikin keringetan padahal ada janji sama teman-teman.

Harus saya akui hati ini jadi hilang kendali begitu keluar rumah dan matahari menyengat kepala. Rasanya helm abang ojek pun tidak dapat membuat kesejukan di kepala saya. Sudah panas, burket, dandanan luntur karena keringat ditambah dengan notifikasi whatsapp group yang isinya "duh gak jadi ketemuan dulu ya hari ini, gimana kalo kita reschedule?" Alamak! kenapa gak dari tadi aja bilang gak jadinya pas saya masih di rumah.

Bete? Jelas! Mau marah? Percuma! Paling hanya menelan ludah daripada naik darah saya putuskan untuk mencari sesuatu yang bisa bikin hati ini adem. Kalau lagi bete gini yang paling tepat buat dilakukan adalah nyeruput minuman dingin atau makan dessert yang bisa bikin mood oke lagi.

"Dessert is probably the most important stage of the meal, since it will be the last thing your guests remember before they pass out all over the table" - William Powell

Minuman atau makanan manis itu bisa memicu pusat kesenangan di otak. Makanya kalau lagi sedih atau bad mood penginnya tuh yang manis-manis aja. Terbukti kok kalau makan atau minum yang manis-manis bisa bikin saya yang lagi nangis bombay jadi good mood lagi.

Jadi, saya memutuskan untuk mencari dessert enak yang bisa saya gigit atau sruput, dua-duanya oke asalkan manis dan bisa bikin hati saya cerah ceria lagi kayak warna pelangi.

Nyari dessert di mana ya? Tentunya di Loffle.id dong, secara gitu Loffle udah direkomendasikan sama TripAdvisor sebagai #3Best Dessert Restaurant di Semarang.


Loffle #kinidua

Store pertama ada jalan Tirto Agung nomor 50, Banyumanik. Selain itu juga ada di Peleburan Barat nomor 10. Kemarin saya datang ke store mereka di Peleburan Barat atau yang lebih dikenal dengan Loffle Pop Up Dessert Downtown Store.


Jatuh Cinta Pada Sruputan Pertama!

Dulu saya paling suka beli Anmitsu di Loffle. Apalagi kalau es krimnya Ogura, waaah enak banget dijamin bakalan nagih sama manis dan lembutnya eskrim ditambah dengan kesegaran buah longan, buah naga, dan kiwi.




Tapi kali ini saya lagi pengin minum yang manis-manis. Eh, kebetulan banget Loffle.id lagi ngeluarin menu baru yaitu Koka Cheese Tea yang satu ini gak kalah enaknya. Koka Cheese Tea kesegaran teh dan kelembutan kejunya meleleh jadi satu di mulut! Sebagai penyuka teh dan keju, minuman yang satu ini cocok banget sama lidah manis saya ini.


Koka Cheese Tea

Nama Koka sendiri terinspirasi dari sebuah Desa di Jepang. Koka yang dalam pengucapannya Koga adalah sebuah Desa di Shiga Prefecture yang letaknya tidak jauh dari Kyoto. Bersama dengan tetangganya Iga, Koka dapat dianggap sebagai tanah air ninja. Saya gak tahu kenapa namanya Koka? mungkin harapannya setelah minum ini mood kita yang jelek jadi menghilang kayak Ninja gitu yang bisa menghilang.



Kebetulan kemarin itu saya nyobain yang rasa Matcha Latte dengan es dan gula yang normal. Saya suka manis tapi gak suka manis yang bikin eneg. Dan, Matcha Latte-nya Koka Cheese Tea ini manisnya pas banget. Selain itu rasa Matcha-nya juga nendang banget gitu. Berasa minum teh dan keju beneran. Jadi, buat kalian yang gak suka keju minuman ini bakal pas banget karena rasa kejunya creamy banget tapi gak bikin eneg.



Loffle Pop Up Dessert Downtown Store ini rame bangeeeet tempatnya saking banyaknya orang yang beli dessert di sini.jadi kalau kalian suka nongki-nongki happy sambil chit-chat sama teman di Cafe mendingan ke Loffle Pop Up Dessert Tirto Agung karena di sana tempatnya cozy banget. Makanya saya lebih suka take away aja. Apalagi kalau take away boleh bawa tempat sendiri sebagai dukungan Loffle.id dalam mengurangi sampah plastik. Keuntungannya bawa tempat sendiri jadi bisa lebih aman juga kalo kita bawa karena gak takut tumpah. Selain itu mengurangi sampah plastik.

Cara Minum Cheese Tea yang Benar

 
Untuk mengurangi sampah plastik dan mendapatkan rasa yang lebih endeuus. Cara minum Koka Cheese Tea ini gak pakai sedotan. Nah, caranya gimana dong? Langsung aja kokop dari gelasnya. Jangan lupa tutup gelasnya dibuka dulu. Cara lengkapnya ikutin aja deh di foto yang udah saya taruh di atas.

Setelah langsung kokop bae dari gelasnya mood saya jadi oke lagi. Rasa keju yang manis dan lembut, dipadu dengan Matcha Latte membuat bete yang tadinya bikin saya kepikiran dan gak tenang menghilang! Bye-bye bete jangan balik lagi ya.



Saat saya akan pulang tiba-tiba datang notifikasi whatsapp yang isinya "Kin, deadline-nya dimajukan jadi hari ini ya. Ditunggu nanti jam 9 malam"

Alamak! Why, kenapa pula ini? Kuingin marah melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri di sini. Akhirnya saya pesan lagi Anmitsu Longan dan Mille Crepes buat dibawa pulang untuk menemani diri ini yang dilanda deadline.

Belum ada judul


Cinta seharusnya menguatkan bukan melemahkan.



Semakin lama mengenal manusia, saya menyadari bahwa kehidupan sulit dipahami.

Entah itu dalam percintaan, persahabatan, bahkan ketika kita tidak menyukai orang dalam kehidupann.

Apakah alasan untuk menyukai dapat diterima? 
begitu pula dengan alasan membenci seseorang? 
haruskah begitu?


Mereka pernah bilang kalau antara cinta dan benci itu tidak berbatas. Keduanya dapat berbaur ketika kita menaruhnya di dalam hati.


Saya adalah mahluk lemah yang kesepian. 
Saya manusia

Apakah saya dapat mewakili manusia?

kalau begitu situasinya maka manusia selalu butuh teman


Kecocokan sulit didapatkan.

kepingan puzzle tidak mudah ditemukan.

dan ketika menemukan kepingan itu setelah lama. rasa ingin memiliki pun hadir tanpa permisi menjajah hati dan menjadikan diri pribadi yang memuja muji tanpa henti.


Dari beberapa saat yang lalu saat saya melihatmu perasaan itu menjalar seperti akar mencari jalannya sendiri mengisi ruang yang kosong.
Saya tak punya lagi kendali pada diri.


Kita memang mahluk bodoh yang selalu merasa pintar

kemudian kita menyalahkan perasaan

katanya jatuh cinta membuat orang lupa dan menjadi bodoh

padahal sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi

dan dunia adalah misteri

dan hati manusia adalah misteri besar yang lebih sulit dipecahkan

Aku mendengar teriakan yang lebih mirip isakan. 
Enggan namun ingin terkesan lantang.


Mahluk lemah kembalilah pada bumi


K